Maman Imanul Haq: Memulai NU Abad Kedua Harus dengan Spirit Para Pendiri

JAKARTA, VANUSNEWS.COM | Memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama (NU), organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini perlu kembali meneguhkan spirit perjuangan para pendirinya. NU tidak boleh hanya dipahami sebagai sebuah struktur organisasi, tetapi sebagai gerakan yang dibangun dengan keikhlasan, pengorbanan, dan pengabdian.

Hal tersebut disampaikan Maman Imanul Haq, Pengasuh Pondok Pesantren Al Mizan Majalengka, saat berbicara mengenai pentingnya melakukan refleksi terhadap perjalanan NU sekaligus menyiapkan langkah organisasi memasuki abad kedua.

Read More

Menurut Maman, salah satu sosok yang penting untuk diteladani adalah KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab.

Maman menilai, spirit Mbah Wahab dalam membangun dan membesarkan NU merupakan teladan penting bagi seluruh pengurus NU saat ini.

“Ketika Mbah Wahab menginisiasi pendirian Nahdlatul Ulama, kemudian berdiri NU dengan restu Mbah Kholil dan diperkuat oleh Mbah Hasyim Asy’ari, yang berkeliling ke seluruh Indonesia itu Mbah Wahab,” kata Maman.

Pada masa itu, ungkap Maman, belum ada teknologi komunikasi seperti telepon genggam, email, maupun media sosial.

Namun, tutur Maman, keterbatasan tersebut tidak menjadi penghalang bagi Mbah Wahab untuk membangun jaringan dan memperkenalkan NU ke berbagai daerah.

“Beliau datang ke Sumatera, datang ke Jawa Barat, datang ke mana-mana. Akhirnya NU menjadi organisasi yang menasional,” ujar Maman.

Karena itu, Maman mengajak seluruh pengurus NU untuk melakukan refleksi sederhana tentang spirit yang dimiliki para pengurus hari ini apakah masih merupakan spirit perjuangan Mbah Wahab atau tidak.

“Ketika kita menjadi pengurus NU, pertanyaannya adalah, apakah spirit kita spirit Mbah Wahab atau bukan?,” tanya Maman.

Maman juga mencontohkan tradisi pengorbanan yang masih hidup di lingkungan pesantren.

Dirinya menceritakan bagaimana para tokoh dan keluarga pesantren di Tambakberas turut berkontribusi secara mandiri untuk mendukung berbagai kegiatan NU, termasuk Muktamar.

Menurut Maman, kontribusi tersebut tidak selalu dalam bentuk yang besar.

“Ada yang memberikan harta, menyediakan kebutuhan tamu, membuat perlengkapan, memasak, hingga bergotong royong menyediakan karpet dan bantal bagi para tamu,” ulas Maman.

Maman menyatakan, tradisi tersebut menunjukkan perjuangan NU sejak awal memang dibangun dengan pengorbanan, bukan dengan orientasi mendapatkan keuntungan pribadi.

““Perjuangan Mbah Wahab untuk NU itu tidak hanya secara fisik, tetapi juga dengan harta. Semangat tersebut tidak bergeser menjadi orientasi untuk mencari keuntungan atau kepentingan pribadi melalui organisasi,” imbau Maman.

Maman menyinggung adanya istilah bisyarah yang belakangan muncul dalam perbincangan mengenai NU.

Menurut Maman, pengurus NU semestinya tidak menjadikan organisasi sebagai ruang untuk mencari keuntungan pribadi.

“Saya hadir di beberapa pertemuan dengan kiai sepuh. Kalimat beliau-beliau itu sangat kuat: di NU jangan mencari bisyarah, tetapi harus mencari basyirah,” sebut Maman.

Basyirah, jelas Maman, adalah kejernihan hati dan pandangan dalam menjalankan amanah organisasi.

Karena itu, imbau Maman, pengurus NU harus mengutamakan pengabdian dan kemaslahatan umat, bukan kepentingan pribadi.

“Siapa pun orang yang mencoba menjadikan NU sebagai alat kepentingan pribadinya, sebenarnya dia akan hancur dengan sendirinya,” tegas Maman.

Maman menilai, pengalaman di sejumlah daerah menunjukkan bahwa ketika tata kelola organisasi tidak dijalankan secara transparan dan amanah, dampaknya bukan hanya kepada individu pengurus, tetapi juga terhadap keberlangsungan organisasi dan badan otonom di bawahnya.

Oleh karena itu, memasuki abad kedua, desak Maman, NU perlu kembali kepada karakter awalnya yakni: organisasi yang dibangun oleh para ulama dengan semangat keikhlasan, pengorbanan, kemandirian, dan pengabdian kepada umat.

“Memulai NU abad kedua harus dengan spirit para pendiri. Kita harus kembali kepada keteladanan Mbah Wahab dan para pendiri lainnya. NU bukan tempat untuk mencari keuntungan pribadi, tetapi tempat untuk mengabdi dan memberikan kemanfaatan sebesar-besarnya bagi umat dan bangsa,” pungkas Maman Imanul Haq. VN-DAN

Related posts