Impor 1.000 Ton Beras Khusus dari AS Dipertanyakan, Minta Pemerintah Transparan

JAKARTA, VANUSNEWS.COM | Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo melontarkan kritik keras terhadap rencana pemerintah mengimpor 1.000 ton beras khusus dari Amerika Serikat (AS).

Kritik tersebut mencuat setelah pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) yang menyebut beras impor tersebut bukan untuk konsumsi masyarakat Indonesia, namun tidak disertai penjelasan rinci mengenai definisi dan peruntukannya.

Read More

Firman menilai, penjelasan pemerintah sejauh ini justru menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat.

Istilah beras khusus yang digunakan dinilai terlalu abstrak dan multitafsir.

“Tanpa transparansi yang jelas, kebijakan impor pangan—terlebih di tengah isu ketahanan pangan dan perlindungan petani lokal—berpotensi memicu kecurigaan publik. Kalau bukan untuk konsumsi masyarakat, lalu untuk siapa? Apa kriterianya disebut beras khusus? Apakah untuk kebutuhan industri tertentu, riset, atau segmen pasar tertentu? Pemerintah harus terbuka,” papar Firman di sela-sela melihat panen ayam, Selasa (3/3/2026).

Sebagai Anggota Komisi IV DPR RI yang membidangi pertanian, pangan, dan kelautan, Firman menekankan kebijakan impor beras bukan sekadar soal angka 1.000 ton.

“Isu ini menyentuh sensitivitas nasional terkait kedaulatan pangan, perlindungan petani, serta konsistensi pemerintah dalam mengurangi ketergantungan pada impor,” sesal Firman.

Dirinya juga mengingatkan, komunikasi publik pemerintah dalam isu strategis tidak boleh setengah-setengah.

“Pernyataan yang tidak komprehensif berisiko memicu spekulasi liar dan memperlemah kepercayaan publik terhadap kebijakan pangan nasional,” sebut Firman.

Menurut Firman, jika menteri teknis tidak dapat menjelaskan secara detail dan komprehensif, sebaiknya pemerintah menunjuk juru bicara yang benar-benar memahami substansi persoalan.

“Isu pangan bukan isu ringan. Penjelasannya harus berbasis data, argumentatif, dan mudah dipahami masyarakat,” ingat Firman.

Firman menilai, dalam situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil dan tekanan terhadap daya beli masyarakat, setiap kebijakan impor harus disertai argumentasi yang kuat dan transparan.

“Tanpa itu, publik akan menilai kebijakan tersebut tidak konsisten dengan semangat kemandirian pangan yang selama ini digaungkan pemerintah,” pungkas Firman Soebagyo. VN-DAN

Related posts