Mulyanto Desak Pemerintah Antisipasi Dampak Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi

JAKARTA, VANUSNEWS.COM | Pasca kenaikan harga BBM non-subsidi beberapa hari lalu, Politisi PKS Mulyanto meminta pemerintah mengantisipasi terjadinya lonjakan permintaan BBM subsidi.

Mulyanto memperkirakan beberapa bagian dari masyarakat yang selama ini menggunakan BBM non-subsidi akan migrasi menggunakan BBM bersubsidi, mengingat kenaikan harga BBM non-subsidi kali ini terbilang besar.

Read More

Anggota Komisi Energi DPR RI periode 2019-2024 ini menjelaskan, kenaikan harga BBM non-subsidi oleh Pertamina adalah konsekuensi dari dinamika harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah, karena harga komoditas ini mengikuti mekanisme pasar.

Namun demikian, lanjut Mulyanto, pemerintah dan Pertamina tidak boleh hanya fokus pada penyesuaian harga, melainkan juga harus mengantisipasi dampak lanjutan yang muncul di masyarakat.

Salah satu dampak yang mungkin terjadi, sebut Mulyanto, adalah migrasi konsumen dari BBM non-subsidi ke BBM subsidi.

“Ketika selisih harga antara Pertamax dan Pertalite semakin lebar, sebagian pengguna kendaraan akan terdorong untuk beralih menggunakan BBM yang lebih murah. Jika migrasi ini terjadi dalam skala besar, maka konsumsi BBM subsidi akan meningkat dan beban subsidi/kompensasi energi yang ditanggung negara berpotensi membengkak,” ulas Mulyanto.

Menurut Mulyanto, kondisi ini tidak sejalan dengan upaya pemerintah menjaga kesehatan APBN di tengah berbagai tekanan fiskal yang ada.

Karena itu, seru Mulyanto, pemerintah perlu memastikan mekanisme pengendalian konsumsi BBM subsidi berjalan efektif sehingga subsidi benar-benar dinikmati oleh kelompok masyarakat yang berhak.

“Langkah yang penting saat ini adalah memperbaiki ketepatan sasaran subsidi energi,” imbuh Mulyanto.

Masalahnya, tutur Mulyanto, regulasi terkait pembatasan pengguna BBM bersubsidi (solar dan pertalite) sampai hari ini belum direvisi, sehingga mobil mewah secara regulasi masih bebas menggunakan BBM bersubsidi.

Di sisi lain, imbau Mulyanto, pemerintah juga perlu menjaga agar selisih harga antara BBM subsidi dan non-subsidi tidak terlalu lebar.

“Selisih yang terlalu besar akan menciptakan insentif ekonomi yang kuat bagi masyarakat untuk berpindah ke BBM subsidi, sehingga tujuan penyesuaian harga menjadi kurang efektif,” tukas Mulyanto.

Dalam jangka panjang, tambah Mulyanto, reformasi subsidi energi perlu diarahkan pada subsidi yang semakin tepat sasaran.

Oleh karenanya, tegas Mulyanto, Negara harus memastikan anggaran subsidi benar-benar membantu masyarakat yang membutuhkan, bukan justru dinikmati oleh kelompok yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik.

“Karena itu, pemerintah perlu menjadikan momentum kenaikan BBM non-subsidi ini sebagai kesempatan untuk mempercepat penataan sistem subsidi energi nasional yang lebih adil, efisien, dan berkelanjutan, sehingga mampu melindungi rakyat sekaligus menjaga ketahanan fiskal negara,” tandas Mulyanto. VN-DAN

Related posts