JAKARTA, VANUSNEWS.COM | Ketua Komisi I DPR RI Periode 2010-2017 Mahfuz Sidik menyatakan, perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS) akan menjadi konflik berkepanjangan di Timur Tengah, meskipun telah ditanda-tangani nota kesepahaman (MoU) kesepakatan untuk menghentikan perang pada 17 Juni 2026 lalu. (Timteng)
“Konflik di Teluk Persia akan terus menjadi isu hot dan konflik berkepanjangan. Situasi yang terjadi sekarang, kita sebut sebagai frozen konflik atau konflik yang membeku,” kata Mahfuz, Minggu (19/7/2026).
Menurut Mahfuz, dalam frozen konflik tersebut, tidak ada perang dalam skala besar, tetapi yang ada hanya konflik-konflik kecil yang tidak bisa dihindari, tetapi tetap membuka kemungkinan terjadi eskalasi yang tidak terkendali.
Mahfuz memprediksi sejak awal perang antara Iran-AS akan berlanjut, meskipun MoU penghentian perang telah diteken kedua belah pihak.
“MoU is over, nota kesepahaman ini sudah berakhir, praktis hanya bertahan selama sepekan,” ujar Sekjen Partai Gelora ini.
Di dalam MoU pada poin keempat, lanjut Mahfuz, sebenarnya sudah sangat jelas memberikan kewenangan kepada Iran untuk berkordinasi dan memastikan agar jalan pelayaran di Selat Hormuz aman untuk dilalui.
Namun, hal itu dilanggar secara sepihak oleh International Maritime Organization, lembaga maritim PBB yang didukung AS dengan mengizinkan empat kapal lewat Selat Hormuz tanpa berkoordinasi dengan Iran.
“Iran kemudian memberikan punishment. Inilah yang kemudian memicu reaksi dari Presiden Donald Trump menyerang Iran,” tutur Mahfuz.
Artinya, jelas Mahfuz pengerahan kekuatan militer AS untuk melanjutkan perang telah deaktivasi kembali.
Bahkan, lanjut Mahfuz, Presiden Trump telah menyurati Kongres AS untuk melanjutkan perang, dan menggunakan kekuatan militer untuk menyerang Iran.
“Trump punya wakttu 60 hari ke depan sejak tanggal 10 Juli untuk melakukan serangan militer ke Iran. Berdasarkan undang-undang Amerika, Trump punya hak untuk mengerahkan kekuatan militer sampai 10 September mendatang,” cetus Mahfuz.
Tadinya, Mahfuz berharap ada perdamaian permanen seperti harapan semua pihak, sehingga ada MoU final kesepatan akhir, yang tadinya diharapkan dapat tercapai pada 17 Agustus 2026.
“Sekarang kita tidak tahu, apakah militer Amerika akan menggunakan kekuatan yang sangat powerful untuk mencapai target-target operasi militernya,” tegas Mahfuz.
Analis Dunia Islam dan Timteng ini menilai target-target Presiden Trump pada dua babak perang sebelumnya, tidak tercapai.
Mahfuz juga tidak yakin pada perang babak ketiga ini yang akan berakhir pada 10 September 2026, target-target operasi Trump ke Iran bakal tercapai, meskipun yang dibombardir bukan hanya instalasi militer, tetapi juga infrastruktur sipil.
Dalam kesempatan ini, Mahfuz menegaskan, Presiden Trump sejak awal memang tidak punya atensi atau niat sungguh-sungguh untuk mengakhiri peperangan dengan Iran.
“Trump pada akhirnya masuk dan menandatangani MOU itu lebih untuk mengatasi situasi politik domestik yang tidak menguntungkan dirinya,” ulas Mahfuz.
Sebab, 70 persen publik AS tidak mendukung perang terhadap Iran yang diinisiasi Presiden Trump.
Bahkan, sambung Mahfuz, Senat dan Kongres juga menolak memberikan persetujuan terhadap tindakan perang yang diambil oleh Trump, sehingga Trump terpaksa menandatangani MoU, yang ditolak Israel.
Karena itu, terang Mahfuz, negosiasi akhir kesepakatan MoU ini tidak akan pernah terwujud, sebab AS dan Israel menginginkan agar perang berlanjut, dan punya target untuk menuntaskan perang pada 10 September mendatang.
Pada prinsipnya, ulas Mahfuz, Trump ingin kekuatan militer Iran lumpuh, terutama kekuatan rudal balistiknya, kekuatan radarnya, dan kekuatan industri drone-nya.
“Trump juga menginginkan hancurnya semua instalasi pengayaan uranium, termasuk instalasi nuklir sipil yang beroperasi di Iran. Artinya, bukan saja menghentikan ambisi atau keinginan Iran untuk bisa mengembangkan persenjata nuklir, tapi semua instalasi pengayaan uranium ini harus dihancurkan termasuk instalasi nuklir untuk keperluan sipil,” papar Mahfuz.
Terakhir, tambah Mahfuz, Trump menginginkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
“Artinya, Iran tidak boleh dalam posisi punya kewenangan melakukan pengaturan Selat Hormuz dengan cara apapun. Sementara target Israel adalah memperluas wilayah di Lebanon Selatan dan Gaza Palestina, serta Dataran Tinggi Golan di Suriah.
Sedangkan Iran akan membalas serangan ke negara-negara Teluk untuk menghacurkan pangkalan dan aset-aset AS yang akan membuat kerugian secara dan finansial,” tutup Mahfuz Sidik. VN-DAN