JAKARTA, VANUSNEWS.COM | Anggota Komisi VI DPR RI Nasim Khan menegaskan pentingnya kesiapan energi nasional menjelang H-3 minggu Lebaran.
Nasim menyoroti peran strategis PT Pertamina (Persero) sebagai penyedia utama BBM dan Avtur di Indonesia dalam mengantisipasi lonjakan konsumsi selama periode mudik.
Menurut Nasim, momentum mudik Lebaran selalu memicu peningkatan signifikan konsumsi bahan bakar, baik untuk kendaraan darat maupun sektor penerbangan.
Karena itu, imbau Nasim, langkah antisipatif harus disiapkan jauh sebelum puncak arus mudik terjadi.
Untuk itu Politisi PKB itu menyatakan ada tujuh aspek penting yang perlu diperhatikan oleh Pertamina untuk memastikan stok BBM dan Avtur aman menjelang lebaran.
Pertama, Nasim menyebut perlunya ada Penguatan Stok dan Ketahanan Pasokan BBM.
Nasim menekankan pentingnya penambahan cadangan BBM dan Avtur di seluruh Terminal BBM serta Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU).
Nasim mendorong agar Pertamina meningkatkan safety stock, terutama di wilayah yang berpotensi mengalami lonjakan permintaan tinggi.
Wilayah prioritas tersebut, urai Nasim, meliputi Jalur Pantura, Tol Trans Jawa dan Sumatra, serta kota-kota tujuan mudik utama.
“Selain itu, optimalisasi kilang domestik juga menjadi faktor kunci. Beberapa kilang strategis seperti Kilang Balongan dan Kilang Cilacap diharapkan beroperasi dengan tingkat utilisasi tinggi (high utilization rate) guna menjaga stabilitas pasokan nasional,” kata Nasim kepada para wartawan, Kamis (26/2/2026).
Kedua, sebut Nasim, adalah Pengamanan Distribusi dan Logistik Energi.
Dalam aspek distribusi, Nasim meminta adanya koordinasi intensif dengan kepolisian dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk memastikan kelancaran mobil tangki di jalur padat.
Menurut Nasim, skema prioritas distribusi di jalur rawan kemacetan. Pengoperasian SPBU Siaga dan SPBU modular 24 jam di jalur mudik
“Penyediaan motorist (layanan BBM keliling) untuk mengurai antrean panjang dan Penguatan jalur laut dan pipa juga perlu disiapkan, termasuk menyiagakan kapal tanker di wilayah kepulauan serta melakukan monitoring stok terminal secara real-time,” imbuh Nasim.
Ketiga, Nasim menekakan Antisipasi Lonjakan Avtur di Bandara Utama juga harus diperhatikan.
Lonjakan pergerakan penerbangan selama musim mudik, ungkap Nasim, juga menjadi perhatian serius.
“Kenaikan trafik penerbangan bisa mencapai 10–20 persen dibanding hari normal. Karena itu, stok Avtur di bandara besar seperti Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Juanda harus ditingkatkan,” jelas Nasim.
Nasim menilai, selain penyesuaian jadwal pengiriman Avtur sesuai tambahan penerbangan (extra flight), kesiapan hydrant system serta penambahan armada refuelling truck juga dinilai krusial untuk mencegah mismatch antara supply dan demand.
Keempat, tutur Nasim, Pertamina juga perlu persiapkan Satgas RAFI dan Monitoring Real-Time.
“Seperti tahun-tahun sebelumnya, Pertamina biasanya membentuk Satuan Tugas Ramadan dan Idul Fitri (Satgas RAFI). Satgas ini bertugas melakukan monitoring harian konsumsi BBM, pelaporan stok secara real-time, hingga menyediakan posko pengaduan 24 jam,” beber Nasim.
“Peran Satgas RAFI sangat penting sebagai quick response mechanism apabila terjadi kelangkaan atau gangguan distribusi di lapangan,” sambung Nasim.
Poin kelima, cetus Legislator asal Dapil Jatim III itu, Pertamina perlu memperhatikan kemungkinan adanya Lonjakan Konsumsi BBM.
“Secara historis, konsumsi BBM selama periode mudik mengalami peningkatan signifikan. Jenis Pertalite dan Pertamax diperkirakan naik 10–30 persen, sementara Solar meningkat terutama di jalur logistik. Kenaikan Avtur umumnya terjadi pada periode H-7 hingga H+7 Lebaran. Pentingnya analisis berbasis data historis untuk kebutuhan forecasting agar distribusi energi tetap terjaga tanpa kekurangan maupun kelebihan pasokan,” papar Nasim.
Poin keenam, imbuh Nasim, hal yang tidak kalah penting adalah tentang Mitigasi Risiko dan Sinergi Antar Lembaga.
Nasim pun mengingatkan sejumlah risiko yang perlu diantisipasi sejak dini, seperti kemacetan distribusi akibat kepadatan lalu lintas, cuaca buruk yang dapat mengganggu kapal tanker, potensi panic buying, hingga gangguan teknis kilang.
“Mitigasi harus disiapkan sejak awal, bukan saat H-3. Kesiapan energi saat mudik bukan hanya soal bisnis, tetapi menyangkut stabilitas nasional,” tegas Nasim.
Poin terakhir atau ketujuh, tukas Nasim, adalah perlunya ada sinergi lintas lembaga antara Kementerian ESDM, Kemenhub, Polri, serta BUMN transportasi agar pengamanan pasokan energi selama Ramadan dan Idul Fitri berjalan optimal.
Dengan langkah strategis dan koordinasi yang matang, Nasim berharap pasokan BBM dan Avtur selama periode mudik Lebaran tetap aman dan masyarakat dapat melakukan perjalanan dengan nyaman.
“Ketujuh poin tersebut perlu diperhatikan oleh Pertamina supaya stok BBM dan Avtur tetap aman dan mudik bisa berjalan lancar,” tutup Nasim Khan. VN-DAN








