Oleh: Jamiluddin Ritonga *)
Jakarta, Vanusnews.com – Anggota Komisi I DPR RI Endipat Wijaya yang membandingkan besar bantuan pemerintah yang triliun dengan donasi warga yang milyaran tentu sangat disayangkan.
Sebagai anggota DPR RI, tak selayaknya Endipat mengutarakan hal itu saat Raker dengan Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi). Sebab, pernyataan demikian menunjukkan ketidakpekaan terhadap gerakan warga, khususnya dalam membantu korban bencana Sumatera.
Endipat sebagai anggota DPR RI seharusnya bersyukur warga masih memiliki kesetiakawanan sosial. Hal itu ditunjukkan dengan adanya donasi dari warga Rp10 miliar untuk meringankan beban saudaranya sebangsa dan senegara.
Karena itu, sungguh tak layak membandingkan bantuan pemerintah yang triliun dan donasi warga yang hanya milyaran. Pemerintah dengan menguasai semua sumber daya tentu hal biasa dapat menggelontorkan anggaran triliun ke korban bencana. Sementara warga yang dalam waktu singkat dapat mengumpulkan milyaran seharusnya diapreasi, bukan diremehkan apalagi dihardik.
Walaupun harus diakui, Endipat melampiaskan hal itu tampaknya karena kecewa kepada Menteri Komdigi Meutya Hafid. Komunikasi publik pemerintah yang lemah, sehingga membuat masyarakat tak tahu kalau pemerintah sudah menggelontorkan triliunan ke korban bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
Kecewa Endipat kepada Menteri Komdigi seharusnya tidak melebar dengan meremehkan bantuan warga kepada korban bencana. Endipat seharusnya cukup mengkritik Menteri Komdigi, dan bila perlu memintanya mundur.
Hal itu logis karena komunikasi publik selama ini cukup lemah. Setidaknya hal itu terlihat sejak Komdigi dipimpin Meutya Hafid dan Dirjen Komunikasi Publik dan Media (KPM) dipimpin Fifi Aleyda Yahya.
Dua sosok itu memang tidak punya latar belakang komunikasi publik. Mereka hanya pernah bekerja di TV, yang tidak sama dalam mendesain komunikasi publik.
Jadi, kinerja pemerintah dalam penanganan bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar tidak terlihat karena lemahnya komunikasi publik. Komdigi tampak tak banyak berperan dalam menginformasikan apa saja yang dilakukan pemerintah kepada korban bencana.
Komdigi sesungguhnya telah gagal dalam berkontribusi dalam menginformasi semua kebijakan dan action yang dilakukan pemerintah. Komdigi justru kalah dengan influencer dalam menginformasikan bencana Sumatera, termasuk penyerahan bantuan dari warga kepada korban bencana.
Jadi, Endipat lebih pas meminta Meutya Hafid dan Fifi Aleyda Yahya mundur dari jabatannya. Hal itu lebih bijak daripada menghardik dan meremehkan donasi warga yang milyaran.
*Penulis adalah Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul dan Dekan Fikom IISIP 1996-1999
