Akselerasi Pemulihan Ekonomi Sumbar Pasca Bencana, Dorong Pariwisata Quick Winning

banner 468x60

PADANG, VANUSNEWS.COM | Senator RI asal Sumatera Barat (Sumbar) Irman Gusman menegaskan, sektor pariwisata perlu ditempatkan sebagai leading sector sekaligus quick winning strategy untuk mempercepat pemulihan ekonomi Sumbar pasca bencana.

Hal tersebut disampaikan Irman saat menjadi keynote speech pada Seminar Ekonomi Sumbar 2026 yang digelar di Aula Bappeda Sumbar, Rabu (1/4/2026).

Read More
banner 300x250

Seminar ini merupakan gagasan Irman Gusman sebagai senator yang dikenal memiliki kepedulian kuat terhadap percepatan pembangunan di Sumbar pasca bencana, khususnya dalam momentum pemulihan dan akselerasi ekonomi daerah.

“Berdasarkan data terbaru, pertumbuhan ekonomi Sumbar pada tahun 2025 tercatat sebesar 3,37 persen, menurun dibandingkan 4,36 persen pada tahun sebelumnya,” beber Irman.

Dalam situasi ini, menurut Senator asal Sumbar itu, daerah membutuhkan sektor yang mampu bergerak cepat, menyerap tenaga kerja, serta langsung menggerakkan ekonomi masyarakat.

Irman menilai, pariwisata memenuhi karakter tersebut karena bertumpu pada potensi yang telah dimiliki daerah tanpa membutuhkan investasi awal yang besar.

“Pariwisata itu produk atau investasi yang telah kita miliki tanpa kita keluarkan uang. Kekayaan alam, baik laut, danau, maupun gunung, sangat luar biasa. Bentang alamnya tidak kalah dengan Swiss,” ujar Ketua Dewan Pakar Bidang Ekonomi UMKM PP Muhammadiyah itu.

“Kekayaan alam Sumbar yang mencakup laut, danau, serta pegunungan menjadi modal kuat untuk mendorong kebangkitan ekonomi, sepanjang mampu dikelola dengan baik dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” urai Irman.

Anggota Komite I DPD RI itu menekankan, kekuatan utama sektor pariwisata terletak pada efek berganda yang dihasilkannya.

“Aktivitas wisata tidak hanya berdampak pada sektor utama, tetapi juga menggerakkan berbagai sektor turunan seperti kuliner, transportasi lokal, homestay, kerajinan, hingga ekonomi kreatif yang langsung melibatkan masyarakat,” ujar Irman.

Dengan karakter tersebut, lanjut Irman, pariwisata menjadi salah satu instrumen paling efektif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Dalam paparannya, Irman juga menyoroti pentingnya kepemimpinan daerah yang proaktif dan berorientasi pada eksekusi.

Irman mencontohkan pengalamannya saat berkunjung ke Kepulauan Mentawai.

Dalam kunjungan tersebut, dirinya tidak hanya melihat potensi pariwisata, dan pemerintah daerah aktif sehingga dengan jaringannya mengambil langkah untuk membuka akses dan peluang kerja sama dengan berbagai pihak.

“Alhamdulillah saya mencoba mengoneksikan dengan Kementerian Pariwisata (Kemenpar), kemudian juga lembaga konsultan marketing Pak Hermawan, MarkPlus, untuk men-branding Mentawai sebagai salah satu objek wisata dunia,” ujar Irman.

Irman juga mengungkapkan telah memperkenalkan langsung Bupati Mentawai dengan pemilik TransNusa guna membuka peluang penerbangan wisatawan dari Bali menuju Padang dan Mentawai.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat konektivitas sekaligus meningkatkan arus wisatawan ke Sumatera Barat.

Selain penguatan sektor pariwisata, Irman juga mendorong dukungan terhadap ketahanan ekonomi masyarakat.

Dirinya menyebut telah meyakinkan Bulog untuk membangun gudang pangan di Mentawai.

Bahkan, lanjut Irman, Bulog juga bersedia mendampingi masyarakat dalam pengembangan sawah seluas sekitar seribu hektar sebagai bagian dari penguatan ekonomi lokal.

Namun, menurut Irman, substansi dari langkah tersebut bukan semata pada pengembangan Mentawai sebagai destinasi, melainkan pada cara kerja yang harus dimiliki oleh kepala daerah.

Dirinya menegaskan, dalam kondisi saat ini, daerah tidak bisa hanya menunggu program atau anggaran, melainkan harus aktif menjemput peluang, membangun jejaring, dan mempercepat realisasi kerja sama lintas sektor.

Dirinya juga menambahkan, percepatan pembangunan tidak harus selalu bergantung pada APBD maupun APBN.

“Banyak peluang kolaborasi yang dapat dimanfaatkan apabila pemerintah daerah mampu bergerak lebih proaktif dan adaptif dalam membangun hubungan dengan pemerintah pusat, dunia usaha, serta lembaga profesional,” tegas Irman.

“Di Indonesia ini siapa cepat, dia dapat. Siapa yang lebih aktif, dia akan lebih unggul. Kalau kita menunggu saja, tidak akan terjadi percepatan,” pungkas Irman Gusman.

Seminar Ekonomi Sumatera Barat 2026 ini dibuka oleh Gubernur Sumatera Barat yang diwakili oleh Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Keuangan, Reti Wafda.

Kegiatan ini juga menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai pemangku kepentingan, yakni Kepala Bappeda Sumbar Zefnihan, Deputy Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumbar Andi Satrio Biwodo, Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Sumbar M. Dody Fachrudin, akademisi Universitas Andalas Syafruddin Karimi, serta Ketua Umum Kadin Sumbar Buchari Bachter.

Antusiasme peserta terhadap seminar ini sangat tinggi. Dari target awal sekitar 150 peserta, jumlah kehadiran mencapai lebih dari 200 orang, mencerminkan besarnya perhatian publik terhadap upaya pemulihan ekonomi daerah.

Sebagai tindak lanjut, hasil seminar ini tidak akan berhenti pada forum diskusi semata. Ke depan akan dibentuk tim perumus yang bertugas menyusun rekomendasi kebijakan konkret guna mempercepat pemulihan dan mendorong pertumbuhan ekonomi Sumbar yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan. VN-DAN

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *