Piala Dunia 2026 sebagai Momentum Perdamaian dan Kemanusiaan

Oleh: Rieke Diah Pitaloka | Aktivis Kemanusiaan dan Politisi

Saya melihat Piala Dunia 2026 bukan sekadar ajang olahraga. Ini adalah panggung dunia untuk menebarkan nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan lintas bangsa, dan perdamaian.

Read More

Pada Piala Dunia 2026: Jumlah tim: 48 negara (pertama kalinya diperluas dari 32 tim); 104 pertandingan; dan negara penyelenggara (Amerika Serikat (AS), Meksiko, dan Kanada)

Piala Dunia 2026 juga menjadi momentum penting perdamaian. Untuk pertama kalinya tiga negara, yang memiliki dinamika perbatasan dan migrasi, bersatu menjadi tuan rumah. Ini bukti bahwa olahraga bisa meruntuhkan tembok permusuhan.

Terkait penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di AS, Meksiko, dan Kanada, saya mengapresiasi. Ini terobosan luar biasa. Tiga negara, satu semangat.

Saya titip pesan, jangan sampai pesta bola ini melupakan para pengungsi, pekerja migran, dan komunitas miskin di sekitar stadion. Gerakan kemanusiaan harus menyertai setiap tendangan penalti. Saya berharap FIFA dan panitia memberikan perhatian serius pada isu keadilan sosial, bukan hanya keuntungan komersial.

Saya mendukung tim kemanusiaan. Siapa pun yang menjunjung tinggi nilai sportivitas, anti-rasisme, dan membela hak-hak anak di zona konflik.

Saya simpati pada tim-tim dari negara yang sedang berjuang melawan ketidakadilan global, misalnya tim yang berani bersuara untuk gencatan senjata di Palestina atau tim pengungsi. Dulu waktu sekolah, saya suka Brasil karena gaya bola indah. Sekarang saya lebih suka tim yang indah hati nuraninya.

Piala Dunia 2026 merupakan momentum penting bagi perdamaian. Piala Dunia 2026 adalah peluang emas. Bayangkan, ada 104 pertandingan.

Jika setiap pertandingan (termasuk nobar) diselingi pesan perdamaian dan penggalangan dana kemanusiaan, dampaknya luar biasa. Saya mengajak siapa saja penggemar sepak bola menjadikan turnamen Piala Dunia 2026 sebagai gerakan global:

Satu Bola untuk Perdamaian, Satu Dunia untuk Kemanusiaan.

Related posts