TARAKAN, VANUSNEWS.COM | Proyek Infrastruktur pengaspalan jalan yang didanai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kini tengah berjalan.
Proyek yang ditargetkan mencapai panjang 1 kilometer ini dikerjakan dengan melibatkan kemitraan subkontraktor lokal guna mempercepat realisasi pembangunan di daerah.
Menurut informasi yang dihimpun dilapangan melalui perbincangan dengan pengawas proyek, Nur Hakim, pengerjaan jalan ini menetapkan standar ketebalan aspal setebal 2 sentimeter.
“Ketebalan pengaspalan ini seharusnya 2 sentimeter. Lapisan yang dihamparkan saat ini cukup tebal” ujar Nur Hakim, Minggu (10/05/26).
Berdasarkan data yang di peroleh, Proyek APBN ini secara secara resmi dimenangkan dan di kelola oleh Kontraktor Moyang.
Namun dalam pelaksanaannya di lapangan, kontraktor Moyang menggandeng perusahaan lokal yaitu CV Gusti Tanjung Mandiri sebagai Subkontraktor (Subkon) untuk menangani teknis pengaspalan.
“Untuk pengerjaan jalan ini, semuanya langsung diarahkan kepengaspalan. Pelaksana teknis di lapangan diserahkan kepada CV Gusti Tanjung Mandiri selaku subkontraktor dari Kontraktor Moyang,” jelasnya.
Proyek pengaspalan jalan sepanjang kurang lebih 1 kilometer ini membentang sepanjang jalan Yos Sudarso Tarakan Kalimantan Utara tepatnya di depan Pos Angkatan Laut sampai depan pelabuhan SDF.
Proses pengerjaan dilakukan secara bertahap dengan demi menjaga kelancaran arus lalu lintas.
Jika sebelumnya pengerjaan difokuskan pada satu sisi jalan, saat ini para pekerja mulai merampungkan sisi jalan sebelahnya agar akses transportasi masyarakat dapat segera berfungsi normal secara keseluruhan.
Pihak pelaksana optimistis proyek ini dapat selesai tepat waktu dengan kualitas yang memenuhi standar.
Namun dalam pengerjaan ini ada yang berbeda dari metode pengaspalan kali ini. Masyarakat sempat menyoroti adanya cairan khusus yang dicampurkan sebelum aspal di hamparkan.
Menurut penjelasan Edi, salah seorang pekerja yang bertugas melakukan penyemprotan dilapangan, material berwarna coklat tersebut merupakan aspal emulsi yang menggunakan campuran air.
“Ini namanya prime Coat atau bahan perekat. Memang warnanya seperti itu karena dia menggunakan campuran air, berbeda dengan aspal bakar yang berwarna hitam pekat” ujar Edi.
Secara teknis, pengguna aspal emulsi berbahan dasar air kini kian populer dalam proyek infrastruktur karena dinilai lebih ramah lingkungan dan praktis dalam aplikasinya dibandingkan aspal bakar konvensional yang memerlukan pemanasan suhu tinggi.
Edi menjelaskan bahwa material yang dikerjakannya merupakan aspal drum, bukan aspal bakar. Perbedaan bahan dasar inilah yang membuat tampilan visualnya berbeda pada saat awal disemprotkan kepermukaan jalan sebelum nantinya ditimpa dengan lapisan aspal utama. VN-ARM
