ALOK Kaltara: Dugaan Penculikan Mahfud Ghodal Libatkan Oknum Aparat, Desak Polisi Usut Tuntas

TANJUNG SELOR, VANUSEWS.COM | Kasus dugaan penculikan dan Penganiayaan terhadap warga Kampung Arab, Tanjung Selor, Kalimantan Utara Mahfud Ghodal, terus bergulir.

Setelah sebelumnya Ketua DPRD Kaltara mengecam keras aksi tersebut, kini giliran Aliansi Ormas Kaltara ( ALOK ) yang secara resmi mengeluarkan pernyataan sikap pada, Sabtu (16/06/26)

Read More

Dalam pernyataannya, Alok diwakili Sekjen Alok Ridwan Bansir tidak hanya mengecam kekerasan yang menimpa korban, tetapi juga mengungkapkan dugaan serius bahwa oknum aparatur negara terlibat dalam peristiwa yang terjadi pada Kamis dini hari, 14 Mei 2026, sekitar pukul 00,15 WITA di Tanjung Selor Kabupaten Bulungan Kalimantan Utara tersebut.

Pernyataan sikap yang ditandatangani oleh pengurus ALOK itu dibacakan di hadapan awak media dan sejumlah tokoh masyarakat setempat. Mereka mengaku telah bertemu langsung dengan korban Mahfud Ghodal, dan mendengar kesaksiannya secara langsung.

ENAM POIN TEGAS ALOK :

Secara umum, ALOK menyampaikan Enam poin penting sebagai bentuk kepedulian terhadap Penegakan Hukum dan HAM di Kalimantan Utara.

– Alok mengecam keras segala bentuk tindakan kekerasan, intimidasi, penculikan, maupun tindakan main hakim sendiri. Menurut mereka, aksi tersebut bertentangan dengan hukum, hak asasi manusia dan nilai – nilai kemanusiaan yang di junjun tinggi di Indonesia.

– Organisasi yang menghimpun sejumlah ormas di Kaltara itu menilai bahwa peristiwa ini merupakan persoalan serius yang tidak boleh dianggap sepele ‘Korban mengalami ketakutan, tekanan mental, serta trauma mendalam’ demikian bunyi pernyataan tersebut.

– ALOK secara terbuka menyebut adanya dugaan keterlibatan oknum Aparatur Negara dalam peristiwa penculikan dan pemukulan tersebut. Klaim ini didasarkan pada pengakuan dan alur cerita yang disampaikan langsung oleh korban Mahfud Ghodal kepada pihak ALOK.

“Berdasarkan pengakuan dan alur cerita yang disampaikan oleh korban kepada pihak kami, terdapat dugaan kuat adanya keterlibatan oknum Aparatur Negara. Oleh karena itu, kami meminta agar dugaan ini diusut secara profesional, transparan, objektif dan tanpa tebang pilih,” tegas perwakilan ALOK Ridwan Bansir.

Tudingan ini menjadi batu uji bagi Aparat Penegak Hukum di Kaltara. Sejauh ini, Kepolisian masih belum memberikan keterangan resmi terkait adanya personal mereka yang diduga terlibat.

– ALOK mendesak Aparat Penegak Hukum, dalam hal ini Polda Kaltara dan Polres Bulungan, untuk segera melakukan penyelidikan dan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh pihak yang diduga terlibat. Selain itu, mereka meminta agar korban dan saksi – saksi mendapat perlindungan hukum dan keamanan.

– Pernyataan sikap itu mengingatkan bahwa aparat negara seharusnya menjadi pelindung masyarakat.

“Jangan justru menjadi pihak yang diduga melakukan tindakan yang mencederai rasa keadilan dan kepercayaan publik,” tulis ALOK.

– ALOK mengajak seluruh elemen masyarakat Kalimantan Utara untuk tetap menjaga situasi kondusif.

Mereka meminta masyarakat tidak terprovokasi, namun tetap mengawal proses hukum secara damai dan bermartabat demi tegaknya keadilan.

Berdasarkan pantauan dilokasi, hingga Sabtu (16/05/26), Mahfud Ghodal masih berada di kediamannya di Kampung Arab.

Ia dikabarkan masih mengalami trauma berat pascapenculikan yang terjadi dua hari sebelumnya. Bekas luka lebam di sekujur tubuhnya masih terlihat jelas, menurut keterangan tetangga yang sempat melihatnya.

Hingga berita ini diterbitkan, Kepolisian Resort Bulungan belum memberikan konferensi pers resmi. Namun, sumber internal kepolisian menyebutkan bahwa pihaknya sedang mengumpulkan bukti dan memeriksa sejumlah saksi, termasuk meminta keterangan dari korban Mahfud Ghodal.

Kasus ini menjadi sorotan publik Kaltara karena menyentuh dua isu sensitif yaitu kekerasan terhadap warga sipil dan dugaan pelibatan oknum aparat negara dalam tindak pidana. VN-ARM

Related posts