JAKARTA, VANUSNEWS.COM | Wakil Ketua (Waka) Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani meminta pemerintah memberikan perhatian serius terhadap banyaknya sekolah yang mengalami kerusakan akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menurut pria yang akrab disapa Lalu Ari itu, keselamatan peserta didik harus menjadi prioritas utama, tanpa mengabaikan hak anak untuk tetap memperoleh pendidikan.
“Banyaknya sekolah yang rusak akibat gempa di NTT harus menjadi perhatian serius pemerintah karena menyangkut keselamatan dan hak anak untuk mendapatkan pendidikan,” kata Lalu Ari.
Lalu Ari meminta pemerintah pusat dan daerah segera melakukan pendataan secara menyeluruh terhadap tingkat kerusakan setiap sekolah.
Bangunan yang dinilai tidak aman, imbuh Lalu Ari, tidak boleh digunakan untuk kegiatan belajar mengajar sebelum dinyatakan layak.
“Pemerintah juga harus menyediakan ruang belajar sementara agar kegiatan belajar tidak terhenti,” tegas Lalu Ari.
Lalu Ari juga mendorong percepatan pencairan anggaran untuk penanganan sekolah terdampak.
“Perbaikan fasilitas pendidikan, ingat Lalu Ari, harus dilakukan secara cepat dan terukur, disertai dukungan bagi guru dan siswa yang terdampak bencana.
“Pemerintah pusat dan daerah harus mempercepat pencairan anggaran, memperbaiki fasilitas sekolah, dan memberikan dukungan kepada guru serta siswa yang terdampak. Jangan sampai anak-anak menjadi korban kedua karena proses pemulihan pendidikan berjalan lambat,” imbau Lalu Ari.
Dalam jangka panjang, Lalu Hadrian menekankan agar pembangunan kembali sekolah yang rusak tidak sekadar berupa perbaikan bangunan lama.
“Sekolah yang dibangun kembali harus memenuhi standar konstruksi tahan gempa sehingga lebih aman menghadapi potensi bencana di masa mendatang.
Pemerintah tidak boleh hanya memperbaiki bangunan lama. Sekolah yang dibangun kembali harus menggunakan standar konstruksi tahan gempa agar lebih aman dan tangguh,” papar Lalu Ari.
Selain pembangunan fisik, dirinya pun meminta pemerintah memperkuat sistem mitigasi bencana di lingkungan sekolah.
“Hal itu dapat dilakukan melalui penyediaan jalur evakuasi, simulasi gempa secara berkala, pelatihan bagi guru, serta edukasi dan peningkatan kesiapsiagaan siswa,” tutur Lalu Ari.
Menurut Lalu Ari, kesiapsiagaan bencana harus menjadi bagian penting dari pengelolaan satuan pendidikan, terutama di daerah yang memiliki risiko bencana tinggi seperti NTT.
“Mitigasi tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik. Jalur evakuasi, simulasi gempa, pelatihan guru, dan kesiapsiagaan siswa harus diperkuat,” imbuh Lalu Ari.
Lalu Ari juga mengingatkan pentingnya transparansi dan pengawasan dalam seluruh proses rehabilitasi dan pembangunan kembali sekolah terdampak gempa.
Anggaran yang dialokasikan pemerintah, tukas Lalu Ari, harus dipastikan tepat sasaran dan benar-benar digunakan untuk kepentingan pemulihan pendidikan.
“Seluruh proses pembangunan harus transparan dan diawasi agar anggaran tepat sasaran. Jangan sampai dalam situasi bencana justru muncul persoalan baru karena lemahnya pengawasan. Pemulihan sekolah pascagempa harus menjadi momentum untuk membangun fasilitas pendidikan yang lebih aman dan tangguh,” pungkas Lalu Hadrian Irfani. VN-DAN





