Jakarta, Vanusnews.com – Anggota Komisi IX DPR RI Zainul Munasichin menanggapi serius banyaknya Pekerja Migran Indonesia (PMI) menjadi korban scam dan penyalahgunaan data pribadi di luar negeri.
Dirinya mendesak pemerintah memastikan keamanan digital bagi para pekerja migran.
Menurut laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian P2MI, sejumlah PMI mengalami kasus di mana data pribadi mereka digunakan untuk aktivitas ilegal, seperti judi online dan tindak pidana penipuan, sehingga beberapa di antaranya harus berhadapan dengan aparat hukum negara setempat — padahal mereka tidak melakukan kejahatan tersebut.
Zainul menilai kondisi ini sangat memprihatinkan dan menunjukkan lemahnya sistem perlindungan digital terhadap PMI.
Dirinya meminta pemerintah serius menangani kasus tersebut.
“Ini bukan semata soal literasi keuangan. Ini soal keamanan digital dan perlindungan negara terhadap warga negaranya di luar negeri. Pemerintah tidak boleh berhenti pada peluncuran buku saku atau sosialisasi, tapi harus membangun sistem perlindungan yang konkret dan terintegrasi,” tegas Zainul, Kamis (13/11/2025).
Zainul menambahkan, para PMI sudah berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional melalui remitansi yang mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun.
Oleh karena itu, lanjut Zainul, perlindungan data dan keamanan digital PMI harus menjadi prioritas nasional.
“Negara jangan hanya memanfaatkan devisa dari PMI, tapi juga wajib memastikan data dan identitas mereka aman. Pemerintah perlu bekerja sama dengan OJK, Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian P2MI, dan Komdigi untuk membuat mekanisme pengamanan data lintas negara,” ujar Legislator asal Jawa Timur tersebut.
Zainul juga mendorong peningkatan kapasitas dan perlindungan digital melalui kerja sama bilateral dengan negara penempatan, serta penerapan sistem verifikasi data biometrik dan enkripsi kuat untuk mencegah kebocoran.
“Kita harus hadir melindungi mereka, baik secara fisik maupun digital. Jangan sampai PMI menjadi korban dua kalikali, di luar negeri dan di dunia maya,” pungkas Zainul Munasichin.








